KAMU YANG TAK KUNJUNG LULUS KULIAH



“Kapan sidang?”
“Kapan wisuda?”
“Kapan lulus?”
Sebuah rentetan pertanyaan yang kerap kali menghantui seorang MaBa (Mahasiswa Bangkotan) alias mahasiswa tua yang masih berkutat dengan tugas akhir, di saat semester telah berada di ujung penghabisan. Teman-teman sekelas berpakaian rapi formal yang baru saja keluar dari sebuah ruang sidang skripsi adalah pemandangan sehari-hari yang bisa disaksikan, tanpa bisa dirasakan sendiri. Bukan tidak bisa. Bisa, hanya saja belum waktunya. Hehe. Di ujung sana, tagihan uang kuliah untuk satu semester ke depan melambai-lambai, sepert tarian hantu-hantu yang muncul di pagi bolong. Sebuah biaya satu semester untuk sebuah tugas akhir yang tak kunjung selesai-selesai, sejilid skripsi. Sebuah mahar kelulusan.
Mengapa kau tak juga lulus-lulus? Akhirnya setelah pertanyaan itu keluar dari mulut manusia lain, kini keluar dari nurani diri sendiri. Hmmm. Seketika menjadi melankolis. Ada banyak dalih untuk menjawab pertanyaan itu. “Kegiatan di organisasi menyita waktuku untuk mengerjakan skripsi”, “Aku mahasiswa dan pekerja paruh waktu yang jadwal bekerja dan bimbingan skripsi tak pernah bisa saling melengkapi, selalu saja berbenturan”. “Dosen pembimbing sedang sibuk dan tidak bisa membimbing”. Di balik itu, tersimpan beberapa dalih yang dirasa terlalu aib untuk dikatakan dengan jujur; “Aku malas”, “Aku tidak siap menghadapi kenyataan setelah lulus nanti”, “Aku belum siap untuk lulus, karena tak tau akan ke mana setelah lulus”, “Aku takut kelulusanku hanya akan menambah jumlah pengangguran negara”. Woahhh.
Akhirnya bimbang mulai melanda. Lebih baik aku lulus dulu tapi tak tau mau ku kemanakan kelulusanku, atau aku dapat kerja, tapi konsekuensinya, aku lulus bareng dedek-dedek yang sekarang masih maba. Maba beneran ini. Mahasiswa baru. Tapi nyatanya banyak juga kawan-kawan yang kegiatan banyak, organisasi banyak, punya bisnis keren, dannn tetep lulus cepet. Lalu diri sendiri mulai merenung dan (mencuri kata-katanya Fiersa Besari) tertunduk di sudut dunia.
“Mau sampai kapan bertahan dalam kebangkotan ini?” Akhirnya nurani mengembalikan kesadaran yang sempat pergi bermain atau berkelana entah ke mana. “Ya sudah lah kalau memang gak bisa sehari selembar, sehari separagraf, kalau memang separagraf juga dirasa masih sulit, buatlah sekalimat saja. Kalau memang masih buntu juga buatlah halaman judul dulu, yhaa khaaann... Daripada nggak ngerjain samsek”. Hingga akhirnya sebuah kalimat “cepatlah wisuda, Nak. Emak menunggumu” menjadi seuntai kata mutiara yang kemudian tersemat dalam salah satu lembaran skripsi, motto.

Komentar

Postingan Populer