KETIKA KEBEBASAN PEREMPUAN HANYA ELEGI YANG DIROMANTISASI


Pernahkah kamu mendengar cerita tentang perempuan yang mati diperkosa suaminya sendiri, atau ayahnya sendiri? Itu bukan lagi tinggal cerita, tapi petaka kehidupan. Bayi-bayi perempuan memang tidak lagi dikubur hidup-hidup, tetapi mimpi dan harapan merekalah yang dikubur ketika mereka hidup di kehidupan.
Kita tak henti-hentinya menuang narasi-narasi romantis dan terkesan memanjakan perempuan. Sekarang perempuan tak seperti dulu lagi, yang begitu keluar dari rahim ibu, lalu masuk ke liang lahat. Kini perempuan bisa mengisi bangku-bangku perguruan tinggi, menduduki kursi-kursi parlemen, mengelola sawah dan laut, mendeklamasikan puisi-puisi kebebasan. Benar begitu?
Kita semua tahu bahwa mencuri adalah terlarang. Kita pun tahu membunuh itu adalah sebuah kekejian. Kita tahu menghina orang adalah sama dengan menghina diri sendiri. Dan kita pun tahu mencontek saat ujian adalah dosa besar bagi seorang peserta ujian. Tapi sayangnya mengetahui itu tidak selalu berarti menyadari.
Sama halnya narasai kebebasan perempuan, kita bisa bilang perempuan boleh kok menempuh pendidikan tinggi, bahkan menuntut ilmu itu wajib. Perempuan bisa kok bekerja di luar rumah, kita kan juga butuh dokter kandungan perempuan. Perempuan itu mulia, dilindungi ayahnya, dilindungi saudara laki-lakinya, dilindungi suaminya, dan dilindungi anak laki-lakinya. Perempuan itu enak, mendapat mahar, dinafkahi, dilindungi, dan.. dan... dimuliakan lah pokoknya.
Apakah kita tidak lelah setiap hari berkutat dengan narasi-narasi yang begitu-begitu saja sementara kita abai dengan relaita yang mungkin oleh dunia berusaha ditutupi dan pura-pura tak didengar. Berapa banyak perempuan buruh yang tak mendapat upah setara dengan buruh laki-laki, padahal beban kerjanya sama. Sudah berapa banyak perempuan yang pendapatkan pelecehan di tempat kerja atau di sekolah-sekolah, di angkutan umum, bahkan ketika hanya lewat di jalan?! Berapa banyak perempuan yang menjadi korban penjambretan, pembunuhan, dan pemerkosaan ketika pulang kerja malam-malam?! Berapa banyak perempuan pekerja rumah tangga yang disiksa atau diajak selingkuh oleh tuan rumahnya?! Sudah berapa perempuan korban perkosaan yang dipaksa menikah dengan pelaku dengan dalih menutupi aib keluarga?! Sudah berapa banyak perempuan belia di pelosok pegunungan yang harus dinikahkan di usia sekolah karena dianggap beban ekonomi keluarga? Mengapa itu semua bisa terjadi? Apakah hanya karena mereka perempuan? Memangnya kenapa jika perempuan? Apakah karena mereka perempuan lalu mereka tidak berhak mendapatkan rasa aman kapanpun dan di manapun mereka berada?
Melihat semua kegetiran itu, dunia kembali mengunci perempuan-perempuan ke dalam rumah-rumah yang sebenarnya hanya penjara. Biar aman katanya. Kekerasan-kekerasan yang menimpa perempuan itu karena mereka sudah terlalu berlebihan keluar rumah, sendirian, tak ada yang melindungi. Oh tidak, perempuan tetap boleh menghirup kehidupan di luar kasur, dapur, dan sumur. Tetapi syaratnya tidak berpakaian yang menyebabkan laki-laki tidak bisa menahan diri untuk tidak mengganggu perempuan. Jadi jika laki-laki itu mengganggu perempuan, itu karena kesalahan ada pada diri perempuan, kalau sikap laki-laki tersebut ya tidak salah, malah wajar. Jadi selain di rumah, kalau mau aman ya keluar rumah dengan setertutup mungkin. Kalau perlu bawa saja rumahnya ketika pergi, seperti kura-kura atau siput. Semakin tertutup semakin aman.
  Tunggu dulu. Apakah kita lupa dengan cerita pilu seorang anak yang diperkosa ayahnya sendiri atau saudara laki-lakinya sendiri? Lupakah kita dengan cerita seorang istri yang mati diperkosa suami sendiri? Apakah kita tak pernah mendengar seorang anak yang tega memukul dan membunuh ibunya sendiri? Bukankah itu terjadi di dalam rumah yang katanya tempat paling istana bagi perempuan? Bukankah itu dilakukan oleh orang terdekatnya sendiri yang katanya akan melidungi? Bagaimana nasib para perempuan TKI di luar tanah air yang berbulan-bulan menahan letih dan rindu berjumpa anak-anaknya hanya agar keluarganya bisa makan, sementara uang kiriman dari istrinya itu malah digunakan suaminya untuk biaya selingkuh dengan istri tetangga?!
Kebebasan seperti apa sebenarnya yang kau maksud? Kemerdekaan seperti apa yang kau inginkan? Keadilan seperti apa yang kaupikirkan? Bayi-bayi perempuan telah diberi kemerdekaan hidup, dan dewasa bersama perjuangan untuk bertahan agar harapan-harapannya tak dibunuh di depan kehidupan yang mereka saksikan.

Komentar

Postingan Populer